Di era transformasi digital, kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar fitur tambahan dalam aplikasi. AI telah berkembang menjadi fondasi utama dari sistem yang benar-benar bergantung pada kecerdasan buatan untuk beroperasi. Inilah yang disebut dengan AI Native Applications. Sebuah paradigma baru dalam pengembangan perangkat lunak yang tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu, tetapi menjadikan AI sebagai inti dari keseluruhan sistem.
Konsep ini berbeda dari Embedded AI, yang hanya menambahkan kecerdasan buatan ke dalam sistem yang sudah ada. Jika Embedded AI seperti menambahkan GPS ke mobil konvensional untuk meningkatkan fungsionalitas, maka AI Native Applications adalah mobil otonom yang sepenuhnya dikendalikan oleh AI.
Bagaimana AI Native Applications Bekerja?
AI Native Applications dibangun dengan kerangka kerja berbasis AI sejak awal, memungkinkan sistem untuk secara otomatis belajar, menganalisis, dan membuat keputusan tanpa campur tangan manusia.
Ciri khas utama dari AI Native Applications meliputi:
- Data sebagai Bahan Bakar Utama. Aplikasi ini didesain untuk mengolah data dalam jumlah besar secara real-time dan terus beradaptasi dengan pola yang berubah.
- Otomatisasi Berbasis Machine Learning. Sistem mampu melakukan tugas-tugas kompleks tanpa perlu aturan manual, melainkan melalui pembelajaran dari data sebelumnya.
- Interaksi yang Sepenuhnya Berbasis AI. AI bukan hanya mendukung proses, tetapi menjadi pengambil keputusan utama dalam aplikasi tersebut.
Contoh Penggunaan AI Native Applications
Google Photos
Aplikasi ini tidak hanya menyimpan foto, tetapi juga menggunakan AI sebagai inti dari seluruh sistemnya. AI secara otomatis mengenali wajah, lokasi, dan objek di dalam foto, memungkinkan pengguna untuk mencari gambar hanya dengan kata kunci seperti “pantai” atau “ulang tahun” tanpa harus menandai foto satu per satu.
Gong.io
Platform AI yang digunakan dalam dunia sales ini menganalisis percakapan tim penjualan untuk mengidentifikasi pola komunikasi yang paling efektif. AI bukan sekadar membantu, tetapi menentukan strategi penjualan berdasarkan wawasan yang diperoleh secara otomatis.
Di Indonesia, konsep ini masih tergolong baru, tetapi permintaan untuk AI Native Applications semakin meningkat. Banyak bisnis mulai menyadari bahwa sekadar menambahkan fitur AI dalam aplikasi lama tidak cukup, mereka membutuhkan solusi yang benar-benar didesain dengan AI sebagai fondasi utamanya.
Sage Foundry dan WGS: Membawa AI Native Applications ke Indonesia
Menyadari potensi besar dari AI Native Applications, Sage Foundry berkolaborasi dengan PT Walden Global Services (WGS) untuk menghadirkan solusi AI Native yang dirancang khusus bagi pasar Indonesia.
Kolaborasi ini bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi juga membantu bisnis Indonesia memahami dan mengadopsi AI sebagai strategi utama dalam operasional mereka.
Sage Foundry membawa keahlian dalam pengembangan teknologi AI Native, memastikan bahwa aplikasi yang dihasilkan benar-benar berbasis kecerdasan buatan sejak awal, bukan sekadar menambahkan AI ke sistem lama. Sedangkan PT Walden Global Services (WGS), sebagai perusahaan teknologi dengan pengalaman luas di pasar Indonesia, memiliki pemahaman mendalam tentang tantangan bisnis lokal. WGS berperan sebagai implementor yang memastikan bahwa teknologi ini bisa diintegrasikan dengan lancar dalam ekosistem bisnis yang ada.
Menurut Pingadi Limajaya, CTO WGS, perusahaan di Indonesia mulai memahami bahwa AI Native Applications bukan sekadar teknologi baru, tetapi pendekatan fundamental yang bisa mengubah cara bisnis beroperasi.
“Saat kita bicara tentang AI dalam bisnis, banyak yang masih menganggapnya sebagai fitur tambahan, misalnya chatbot atau analitik otomatis. Tapi AI Native berbeda. Ini adalah sistem yang sejak awal didesain untuk berjalan dengan kecerdasan buatan sebagai inti operasionalnya,” ujar Pingadi.
Ia menjelaskan bahwa salah satu keunggulan terbesar AI Native adalah kemampuannya dalam mengolah data secara real-time dan membuat keputusan secara mandiri.
“Misalnya di sektor ritel, AI Native bisa langsung menganalisis pola pembelian pelanggan dan menyesuaikan strategi harga atau stok dalam hitungan detik. Di industri logistik, AI bisa mengoptimalkan rute pengiriman tanpa perlu campur tangan manusia, karena sistemnya memang didesain untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah.”
Menurutnya, kecepatan dalam pengambilan keputusan berbasis data ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga keunggulan kompetitif.
“Jika bisnis masih bergantung pada model manual atau AI yang hanya sekadar membantu, mereka akan kalah dari perusahaan yang sudah menerapkan AI Native. Di beberapa industri, perbedaan antara sukses dan gagal bisa ditentukan oleh kecepatan dalam memproses data dan bereaksi terhadap pasar,” tambahnya.
Namun, meskipun AI Native menawarkan banyak keuntungan, penerapannya tidak selalu mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi, terutama di pasar Indonesia.
Tantangan dan Solusi Implementasi AI Native
“Banyak perusahaan di Indonesia masih bergantung pada sistem lama yang belum dirancang untuk AI. Itu sebabnya, ketika mereka ingin menerapkan AI Native, mereka harus membangun ulang banyak aspek dari infrastruktur teknologi mereka. Ini bukan sekadar menambahkan AI ke dalam sistem lama, tetapi benar-benar merancang ulang bagaimana bisnis mereka berjalan,” jelasnya.
Tantangan lainnya adalah kurangnya data yang bersih dan terstruktur.
“AI Native sangat bergantung pada data berkualitas tinggi untuk bisa bekerja dengan optimal. Tapi kenyataannya, banyak perusahaan masih memiliki data yang tersebar, tidak terorganisir, atau bahkan tidak bisa diakses dengan mudah. Kalau datanya tidak siap, AI tidak bisa memberikan hasil yang maksimal,” tambahnya.
Selain infrastruktur dan data, faktor sumber daya manusia juga menjadi kendala besar.
“Teknologi AI bisa sangat canggih, tetapi tetap membutuhkan orang-orang yang tahu cara menggunakannya. Masalahnya, tenaga ahli AI di Indonesia masih terbatas. Banyak perusahaan punya ekspektasi tinggi terhadap AI, tetapi tidak menyiapkan tim internal yang bisa mengelola dan mengoptimalkan teknologi tersebut,” ujar Pingadi.
Sebagai solusi, WGS tidak hanya berperan sebagai penyedia teknologi, tetapi juga sebagai mitra strategis yang membantu bisnis dalam setiap tahap transformasi ke AI Native.
“Kami tidak hanya mengembangkan dan mengintegrasikan sistem AI, tetapi juga membantu perusahaan menyiapkan infrastruktur data, menyesuaikan arsitektur teknologi mereka, dan melatih tim mereka agar bisa memanfaatkan AI secara maksimal. Kami ingin memastikan bahwa klien kami benar-benar siap untuk beralih ke AI Native, bukan sekadar membeli solusi teknologi tanpa arah yang jelas,” pungkas Pingadi.